manusia kuat
mungkin, ada kalanya kita tidak saling berbicara, dan tak saling membicarakan satu sama lain. pembicaraan yang selalu punya makna namun terkadang cukup dengan sebuah keheningan. saat aku kira semua akan berjalan baik, sebaik pramusaji yang kita temui sore itu di sebuah cafe yang tidak akan pernah kita lupakan sampai kapanpun.
iya, ucapmu kala itu.
bagaikan seduan kopi robusta tanpa gula, tentunya kopi kesukaanmu. tapi tidak untuku yang allergic dengan cafein. bersama senja kita mulai, dibalik bising kota tua kala itu. sebuah kisah bermuara diantara tatapan semesta yang punya sejuta aroma antiknya.
aku hanya berusaha mengingat lagi, kalau-kalau masih ada hal yang bisa kugali dari kenanganku. setidaknya aku sudah membuat pilihan. aku pernah berada pada posisi, saat aku bahkan kebingungan saat memilih mana yang harus kulupakan dan mana yang harus kusimpan. tak ada jeda seharipun aku tidak mengingatnya.
sampai pada akhirnya, kita harus benar-benar membuat pilihan. tentang semua hikayat kita. sampai-sampai saat dimana titik merelakan tak perlu dipertanyakan lagi. ada sebuah masa dimana kita pasti akan melewati beberapa orang dalam hidup ini untuk sampai di titik dimana kita belajar atau menetap.
detik ini,
aku berusaha bangkit.
menyapa semesta dan tersenyum.
mencoba melepaskan dan berdamai pada keadaan.
esok biarlah jadi rahasia.
mungkin kali ini aku harus tumbuh sedikit lebih dewasa.
dewasa yang berarti bertambah rumit dan bising.
lalu bagaimana denganmu?
aku juga ingin melihatmu sama-sama tumbuh.
entahlah semua akan ada masanya.
memupuk dan bertumbuh, hingga akhirnya harus terjatuh.
bangkit bersama harap dan lagi-lagi harus terjatuh juga.
masih saja percaya dengan harapan kosong dan kesekian kalinya harus tersakiti.
tapi tidak sadar dengan keadaan yang telah berbaik hati untuk kebaikan diri.
hingga akhirnya pilihanlah yang menjatuhkan kita, cukupkah untuk menjadi sadar?
nyatanya tidak.
masih saja kerap mengejar ilusi harapan yang kian meng-kosong dibalik kebaikan-kebaikan manuskrip tak berperasaan.
terkadang kita yang terlalu berperasaan sampai harus di sadarkan dengan orang yang tak berperasaan.
hingga akhirnya sebuah kata maaf* terucap.
selamat bagi jiwa yang mudah memaafkan.
semoga jiwamu tidak selalu tersakiti tersebab ketulusanmu yang kerap salah diperuntukan.
tersebab dirimu yang memang tidak diperuntukan.
bukan dirimu tidak berguna, tapi ada jiwa yang lebih memperuntukkanmu dari apa yang kamu lakukan.
teruntuk setiap nafas yang telah melewati masanya, semoga ketulusanmu takan pernah melesap.
tersebab waktu yang kerap mengusang.
seperti hadirnya yang hanya mampir, dan bukan untuk menetap.
terimakasih sudah mencoba kuat.

.jpeg)
Komentar
Posting Komentar