Pilar Nubuwat
Menuntunku menuju langkah-langkah besar selanjutnya
Menyibak tirai waktu yang ikut melesap bersama angan dan kenangan,
Selamat datang duhai pemilik jiwa Abroor, yang indah diantara ribuan qalam
Termaktub pada jutaan abad lamanya, jauh sebelum diri ini diciptakan.
-
Maktuuub
-
Kalimat yang kudapatkan setelah kubaca lembaran usang beberapa tahun silam.
Nun telah lama tidak tertuliskan, sejak setahun silam diri ini beradu asa pada setiap masa yang terlampui. Akankah diri ini lupa jejak-jejak itu sempat tergariskan diantara lautan pasir tempat Rasulullah dilahirkan?
Sungguh, aku hanyalah seorang yang lemah. Qalam-lah tempatku beradu pinta. Berdialog lewat kata, mengulang cerita kala gurun dan lembah menjadi saksi bisunya.
Aku menolak lupa. Bagaimana bisa. Suasana itu masih tergambar jelas. Lautan manuskrip berhadap mesra memeluk setiap do'a dan harap. Bersimpuh air mata selepas mata menelisik keindahanNya.
Duhai Allah. Rumah kami kembali berpulang.
Aku mencoba kembali menuliskanya, dengan rangkaian diksi yang kuubah seiring beranjaknya waktu dan masa.
Tentang sebuah perjalanan menelusuri kisah jejak para Anbiya'.
amma ba'du
...
Terekam jelas jejak kecil kala diri ini melangkah, menelusuri gedung tinggi selasaran di ujung kota. Menyebrangi jalanan yang sepi dibawah temaram sinar rembulan berbalut gamis hitam menerjang suhu yang cukup dingin.
Embius angin menyibak kerudung maroon panjangku, seolah ingin ikut berkelana disepanjang jalan berbalut reremang lampu malam. Dengan langkah sedikit kupercepat, kugosokkan tanganku untuk mendapatkan sedikit kehangatan. Tibalah diri ini pada barisan shaf panjang, mengikuti gerakan manuskrip lain yang sepertinya wajah-wajah orang Asia. Sebuah sajadah kecil yang sudah kusiapkan, kugelar agak kedepan, akupun mulai terbuai dan ikut bertakbir bersama orang - orang yang hadir. Sujud kesekian, kesekian kalinya takjub dan rasanya tak ingin beranjak. Nikmat rasanya. Ada kehangatan yang mengalir diantara relung hati.
"Duhai Allah, tolong jangan percepat waktu ini". Ucapku dalam hati.
Langit Madinah selalu indah.
Bus merah Ajyad Makareem berhenti pada sebuah lapangan luas beralas pasir lembut. Kakiku kembali melangkah menelisik udara pagi menuju siang. Menelusuri anak-anak tangga, berbatu dan sedikit curam. Embius angin mengudara, mengusap wajahku yang kering diterpa panas dan dinginya Haramain,
Semesta seperti berbisik lirih,
"jejak para nabi tersembunyi dibalik keindahan Haramain, terselimuti oleh hamparan lembut pasir, menyimpan rahasia alam. Selamat datang duhai jiwa pengembara, tempat berbagai peristiwa lahir, sebuah saksi tentang kejayaan yang telah tertakdir".
Iqra'..
Tempat pertama Qalam diturunkan. Sungguh malam yang sulit dan menakutkan.
Langkahku hanya sebatas bukit kecil yang memisahkan. Karena jalur yang terjal, kuputuskan untuk memandang tempat itu dari kejauhan. Tulisan 'La Ilaha Illallah' menghiasi deretan bebatuan yang kokoh. Aku kembali takjub. Mencoba membayangkan kejadian-kejadian yang terekam lewat sejarah kenabian.
Namun jauh sebelum itu, langkahku terhenti menyaksikan tempat bertemunya Adam dan Hawa setelah dipisahkan sekian tahun lamanya. Ahh, hari itu.. Aku membayangkan seperti menonton kejadian paling romantis. Tentang sepasang hati yang telah Allah tautkan darinya di Syurga, kembali dipertemukan.
-
Langkahku kian berkelana pada kisah lainnya.
Sebuah kisah pengorbanan, jauh sebelum Rasulullah dilahirkan.
Tentang Rahasia Sang Ratu Zamzam. Dialah Ibunda Hajar. Berjalan cepat menelusuri Safa dan Marwa beralas keimanan dan hati yang tangguh. Rahasia hatinya tergambar pada Ismail kecil. Air zam zam dan Mekah adalah tanda kehadiran dirinya.
-
Kembali kugelar alas sujudku, bukan sajadah yang biasa kugunakan. Tapi hanyalah sebuah kain tipis, beberapa langkah tepat didepan Hijr Ismail.
Duhai Allah, do'a mana yang telah terkabul pada harap yang terucap kala itu.
-
Langit fajar menyapa, tiba akhirnya, tawaf wada' menutup perjalanan ini. Sayap-sayap merpati penunggu telatar masjidil Haram, terbang bersama nyiur angin, mengantarkan langkah kecilku beranjak. Kembali menuju keperadaban bumi pertiwi.
Langit Makkah kala itu indah. Sudinya diri ini untuk menetap sedikit lebih lama.
"No, you still have many countries to visit. So, just leave. We will meet again sooner than further..."
-
Kelak saat diri ini kian melemah ada sedikit kenangan yang masih tersisa, akan kubaca ulang tulisan ini. Terimakasih, sampai berjumpa pada perjalanan selanjutnya.
-
Madinah dalam kenangan
.jpeg)
clearly depicted! berasa ikut liat langsung view disana πΏππ»
BalasHapus