Sebuah awal


4/4/20

Pagi itu

Aku membawa hati yang tak menentu

Pikiran yang memaksa 

untuk menerka-nerka kejadian didepan sana

Tatapan yang penuh pertanyaan

Bibir yang gemetar hendak memulai sebuah prakata

Nafas yang berat tapi dibuat lapang, dan 

Langkah yang mencoba berkepastian

    Lintas waktu begitu cepat berlalu, meninggalkan kesan yang tertinggal pada setiap untaian rasa. Rasa-rasanya berat sekali untuk meyakinkan hati. Ingin berujar bahwasanya masih ada yang teringggal di lampau hari. Tapi saat ku tengok ke belakang, hanyalah tembok besar yang menghalangi temu antara kau, dan aku. Aku mencoba menyapa, namun bisu. Mencoba tersenyum, namun terisak. Mencoba kuat namun sakit. Lain dari sesuatu yang di ekspetasikan. Membelenggu alam batas kesadaraan. Jemu sekali rasanya. Saat malam meraja, hanya satu yang ingin kuharapkan, saat esok tiba kembalikan aku pada lintas waktu yang terlampau sia. Itu saja, yang selain masih bisa tetap bernafas dalam keadaan sehat. Tapi aku sadar, aku bukan hidup di dunia fiksi yang penuh dengan keajaiban. Walaupun aku percaya semesta tak salah melibatkan seseorang untuk mendapinginnya. Karena aku tau, semesta itu punya banyak alasan untuk membuat siapa saja bahagia. Tapi kali ini aku sedikit kecewa pada semesta. Tega-teganya meninggalkan aku berjalan sendirian. Tanpa menitipkan seseorang tuk menemani cakap-cakapku. Asing sekali. 


    Biarlah untuk kali ini mungkin aku yang harus melangkah sendiri. Tanpa alasan dan tujuan. Melangkah saja sesukaku. Tak perlu ada yang mengehentikanku. Biarlah kubuat duniaku sendiri, agar aku bisa buktikan pada semesta bahwa aku memang baik-baik saja.

    Baik-baik saja. Iya, baik-baik saja. 

Hingga malampun tiba. Keheningan hati yang melebih heningnya malam. Ternyata masih ada yang belum terlelap, dengan penanya yang menari di atas lembar putih, kutebak adalah jejeran kata hati yang bersanding dengan sajak melankolia.


    Cerita malam memang selalu saja lezat. Seperti tengah memakan roti keju dengan segelas jus mangga kesukaanku. Tapi sayangnya mereka tak ada dihadapanku. Tergantikan dengan segelas cerita yang tersampaikan dari hati yang paling dalam atau deep talk biasanya. Dengan airmata yang tergerai pada kalimat pembuka. Disambung pelukan hangat ditengah cerita. Hingga berakhir dengan senyuman manis bagai pelita. Masih berlanjut acara Q & A walau sebatas insanaini saja. 


    Lalu kabarku?. Kabarku selanjutnya masih sama. Masih menunggu jawaban dari semesta. Bertalu-talu membuatku menunggu.


   Hari-hari berganti. Manis, pahitnya kurasakan sendiri. Sampai tiba saatnya giliran waktu yang mengobati, mengantarkan hati dalam damai Ilahi. Menghanyutkan segala prasangka pada garis memorabilia. Kembali menata hati untuk akhir yang dinanti. Sudah tidak peduli akan belas kasih semesta. Biarlah tetap kutunggu namun entah sampai kapan. Menepi dan berserah diri, namun tetap lekat di hati. Dan pergi, bukan berarti membenci. Namun mencari makna untuk sebuah kehadiran yang lebih berarti.

     Anggap saja namaku Esok, dan seseorang yang kutemui malam itu adalah Lail. Esok adalah harap yang semu, rentang kisah yang masih menjadi rahasia. Lail yang akan membawa kabar penutup tentang sejauh mana kita melangkah. Namun Esok terlalu menakutkan, sebab tak bisa dipercaya kehadirannya. Bisa saja justru Esok adalah esok yang terakhir untukku menunggu jawaban semesta. Juga bukan berarti Lail adalah waktu terindah selain esok. Hanya saja, Lail selalu membawa bingkisan memorabilia, yang tak pernah takluk dengan renjana. Selalu tertawarkan lewat kalimat manisnya. Menciptakan desir di dada. Hingga akhirnya kita dipertemukan tanpa rencana. Memang terkadang sebuah pertemuan adalah suatu ketidaksengajaan. Pertemuanku dengannya bisa dibilang karena sandiwara semesta. Awal yang tak menentu menjadi tertentukan. Ketidak cocokan yang mencocokkan kita, walaupun sama-sama harus saling mengerti. Sebenarnya kita tidak akan bisa disatukan, terlalu banyak perbedaan. Tapi entah bagaimana selalu saja ada kenyamanan dalam berkata-kata.


    Begitulah adanya, miss binoculars  menatap seluas cakrawala. Tapi tidak untuk kali ini. Aku harus mencoba menahannya. Agar tak bertambah lagi sesak di dada. Jika saja aku tau, rasa yang tidak berbatas takan mempermasalahkan ketika tidak terbalas.



    Akan kubawa kemana langkah ini? sejauh yang bisa aku lakukan. 

Komentar

  1. Saya harap kedepannya kamu akan bertemu dengan lebih banyak kebaikan, Tak usah ragu Allah pasti bantu (┛✧Д✧))┛

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer